1 year ago
Di mata Sadali, teman
masa kecilnya, Untung adalah seorang prajurit cerdas. Sadali, yang sekarang
berdagang peci, masih ingat perjalanan karier karibnya itu. Untung, kata
Sadali, memulai dinas militernya di Heiho pada 1943. Setelah Jepang hengkang,
Untung bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia. Kariernya mulai bersinar
terang di kesatuan Banteng Raiders, Diponegoro, yang bermarkas di Gombel, dekat
Semarang, Jawa Tengah.
Pada 1961, pangkatnya sudah mayor. "Ada satu melati putih di
pangkatnya." Warga Dukuh Kedung Bajul, tempat kelahiran Untung, di
Kebumen, Jawa Tengah, amat mengingat Untung ikut berjasa membebaskan Irian
Barat pada 1962. Bahkan, Sadali percaya, Untunglah arsitek di balik perebutan
Irian Barat dari tangan Belanda.
Dari mulut Sadali terurai strategi Untung yang cerdik dan tak lazim. Setelah
diterjunkan di Irian Barat, konon Untung memadamkan semua lampu di kota-kota.
Sebaliknya hutan-hutan dibuatnya benderang. "Belanda tertipu," kata
Sadali. "Untung bersama pasukannya berhasil masuk ke kota-kota."
Entah dengan cara apa Untung menerangi rimba Papua yang ganas itu.
Prestasi di Irian Barat membuat Untung menjadi salah satu penerima penghargaan
Bintang Sakti, yang langsung disematkan Presiden Soekarno. Penerima penghargaan
lainnya adalah Mayor L.B. Moerdani. Pangkat Untung dinaikkan menjadi letnan
kolonel. Dia pun secara khusus diminta Presiden Soekarno menjadi anggota
pasukan pengawal Tjakrabirawa.
Hingga dieksekusi pada pertengahan 1966, pangkat Untung masih letnan kolonel.
Namun, bagi warga Kedung Bajul, pangkat Untung terus terdongkrak beberapa
tingkat sekaligus. Dengan takzim mereka menyebutnya Jenderal Untung.
"Jenderal Untung dikenal karismatis," Mashud Efendi, 69 tahun, yang
tinggal berdekatan dengan rumah Untung, memuji. Kepala Desa Bojongsari Mohamad
Asibun ikut menyebutnya Jenderal Untung. "Paling tidak ada orang Kebumen
yang berhasil membebaskan Irian Barat," ujar Asibun, 40 tahun.
Mereka bukannya tak tahu soal keterlibatan Untung dalam penculikan para
jenderal Angkatan Darat. Tapi mereka tidak terlalu peduli. Syukur Hadi Pranoto,
yang tinggal di belakang rumah Sukendar, mertua Untung, mengetahui keterlibatan
Untung dalam peristiwa G-30-S melalui radio. Massa yang marah sempat menjadikan
rumah Sukendar sebagai sasaran.
"Sekitar seratus orang siap membakar rumah Sukendar dengan bom
molotov," kata Syukur, yang kini 71 tahun. Beruntung rumah itu bisa
diselamatkan seorang anggota dewan perwakilan rakyat daerah. Kendati Syukur
mendengar Untung terlibat G-30-S, ia tak percaya pria itu bersalah. "Dia
hanya alat atau korban politik. Dalangnya, ya, Soeharto." Sebaliknya, ia
yakin Untung orang yang jujur dan bertanggung jawab.
Dan, seperti warga dukuh lainnya, ia bangga ada putra Kebumen yang menjadi
pahlawan pembebasan Irian Barat. Bahkan Siti Fatonah, 78 tahun, yang masih
terhitung kerabat Hartati, istri Untung, tak percaya warga kebanggaan Kedung
Bajul itu terlibat penculikan para jenderal. Pada malam kejadian, kata dia,
Untung nongkrong makan bakso di Hotel Des Indes Harmoni, Jakarta, atau Duta
Merlin sekarang.
Yang lebih unik, seorang kerabat dekat Hartati lainnya percaya Untung masih
hidup dan tinggal di Kopeng, Salatiga, Jawa Tengah. "Ia menjadi kasepuhan
atau paranormal," kata orang yang tak pernah bertemu dengan Untung itu.
Letkol Untung diyakini dimasukkan Sjam Kamaruzzaman melalui Kapten Rochadi. Kapten Rochadi ini eksil dan meninggal di Swedia.
Pada 30 September 1965. Jam menunjuk pukul 7 malam di Istora Senayan, Jakarta. Tamu
besar, Presiden Soekarno, sudah datang untuk menutup Musyawarah Kaum Teknisi
Indonesia. Terasa benar Istora kian bungah.
Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel Maulwi Saelan tak ikut larut pada pesta
yang berlangsung hingga tengah malam itu. Ia makin waspada. Malam itu, dialah
yang bertanggung jawab menjaga keselamatan Presiden. Atasannya, Brigadir
Jenderal Moch. Saboer, sedang ke Bandung. Sekali lagi ia memeriksa setiap
jengkal gedung itu.
Lhakadalah..., satu pintu yang mestinya tertutup dibiarkan ngeblong. Ia
berteriak kepada seorang anak buahnya. Tentara itu kekarnya setanding dengan
dia, namun lebih pendek. "Kenapa pintu itu terbuka?" Maulwi
menghardik.
Yang ditegur menjawab singkat, lalu menjalankan perintah Maulwi. Dialah Letnan
Kolonel Untung Samsuri, Komandan Batalion I Kawal Kehormatan Tjakrabirawa.
Maulwi menceritakan kembali kisah ini. Inilah
pertemuan terakhirnya dengan Untung, sebelum peristiwa penculikan para jenderal
beberapa jam kemudian. Maulwi mengaku sempat heran atas kelalaian Untung kala
itu. "Dia itu tahu tugasnya apa. Saya heran, kenapa malam itu dia bisa
sangat ceroboh dan lalai begitu," ujarnya.
Tapi ia tak memperpanjang urusan tersebut. Ia tahu Untung sebenarnya dapat
diandalkan. Untung memang tentara bermutu kelas satu. Dalam Operasi Mandala di
Irian Jaya, ia menerima anugerah Bintang Sakti. Di medan tempur itu, cuma ada
satu orang lagi yang menerima penghargaan tertinggi untuk tentara tersebut. Dia
adalah L.B. Moerdani, yang juga pernah digadang-gadang untuk menjadi Komandan
Tjakra di awal berdirinya resimen ini.
Tapi Heru Atmodjo, mantan Asisten Direktur Intelijen Angkatan Udara, menduga
bergabungnya Untung dengan Tjakra tak semata karena prestasinya. "Ia
bagian dari strategi Sjam Kamaruzzaman dari Biro Chusus PKI," ujarnya.
Heru—namanya dimasukkan Untung dalam susunan Dewan Revolusi—menyatakan penaut
Untung dan Sjam adalah Kapten Sujud Surachman Rochadi. "Sjam yang
memasukkan Untung ke Tjakrabirawa melalui Rochadi," ujar Heru.
"Dia itu agen yang disusupkan Sjam ke Tjakra." Nama Rochadi juga
disebut anggota Provoost Tjakrabirawa, Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi.
"Ke-PKI-an Rochadi dibina langsung oleh Sjam," ujarnya.
Suhardi mengatakan informasi soal Rochadi-Sjam didapatnya dari Kapten Soewarno,
komandan kompi lainnya di Batalion I Kawal Kehormatan. Soewarno mengaku
kepadanya bahwa ia bersama Rochadi sering bertandang ke mes tentara Jalan
Kemiri di bilangan Senen. "Di tempat itulah Sjam melakukan pembinaan
terhadap keduanya," kata Suhardi.
Jelas Rochadi orang penting PKI. Namun, menurut Heru, namanya tak pernah
disebut dalam berbagai cerita tentang Gerakan 30 September 1965, "Karena
pada 26 September ia berangkat ke Peking (sekarang Beijing) untuk menghadiri
peringatan Hari Nasional RRC."
"Ia berangkat bersama Adam Malik dan tak kembali
lagi ke Indonesia," katanya. "Posisinya di Tjakra waktu itu
digantikan oleh Dul Arief, yang memimpin operasi penculikan para
jenderal." Cerita ini membikin Maulwi heran. Mengaku tak ingat ada anak
buahnya yang bernama Rochadi, dia mengatakan keikutsertaan seorang Tjakrabirawa
dalam sebuah delegasi tak lazim terjadi.
"Tjakra hanya bertolak ke mancanegara jika Presiden berangkat ke luar
negeri," ujarnya. Heru juga menggarisbawahi soal ini. Rochadi, yang cuma
seorang kapten, tak mungkin ikut delegasi itu jika bukan orang penting—resmi
maupun tak resmi.
Tak ditemukan dokumen yang berkaitan dengan keberangkatan Rochadi kala itu.
Namun, soal ini sudah diverifikasi Heru. Dia bahkan telah menemukan jejaknya di
Swedia. Di sana ia sebagai eksil. Namanya sudah berganti menjadi Rafiudin Umar.
Heru bercerita, saat ia mengontak Rochadi lewat telepon dan memanggil dengan
nama aslinya, Rochadi langsung menutup telepon itu.
Ahli sejarah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, juga pernah
mencari Rochadi di Swedia setelah ia mendengar kisah Heru. Gagal. Dari para
eksil Indonesia di negeri itu diperoleh keterangan bahwa Rochadi tak pernah
bergaul dengan orang-orang yang diasingkan pemerintah Orde Baru.
"Orangnya disebut-sebut agak misterius. Dia juga tak pernah bercerita
alasan sampai ia melarikan diri ke Eropa," ujar Asvi. Jejak Rochadi dibaca
Asvi dalam sebuah otobiografi di perpustakaan Institut Sejarah Sosial Indonesia
yang diperoleh sejarawan asal Universitas Columbia, John Roosa, saat menulis
buku tentang G-30-S/PKI. Dalam riwayat hidup setebal 31 halaman bertahun 1995
itu, tertulis Rochadi lahir pada 1927 dari pasangan Umar dan Kartini. Pada usia
17 tahun, ia masuk Heiho.
Di masa-masa awal kemerdekaan, ia bergabung dengan pasukan Divisi IV/Panembahan
Senopati. Menjelang peristiwa Madiun 1948, divisinya sempat bentrok dengan
Divisi Siliwangi, yang dikirim pemerintah untuk meredam gerakan Musso dan Amir
Sjarifuddin.
Mengacu pada catatan itu, Rochadi tampaknya sejak awal sudah
"kekiri-kirian" dan bersimpati pada gerakan Amir Sjarifuddin. Bagi
Rochadi, peristiwa itu bukan pemberontakan PKI, melainkan provokasi dari
pemerintah pusat yang disokong oleh Blok Amerika Serikat untuk memberangus PKI.
Dalam catatan itu, Rochadi tak menulis nama kesatuannya di Panembahan. Namun,
menurut Heru, dia berada di Batalion Mayor Sudigdo. "Di sanalah awal
pertautan Rochadi dan Untung," kata dia. Rochadi berhasil lolos dari pembersihan
PKI di tubuh Batalion Sudigdo, yang dilakukan Gatot Subroto, karena Belanda
keburu melakukan agresi yang kedua.
Seusai agresi itu, dia ikut operasi penumpasan gerakan separatis Republik
Maluku Selatan pada akhir 1950. Sepuluh tahun kemudian, ia menjadi komandan
kompi Cadangan Umum (sejak 1963 namanya menjadi Kostrad) Resimen 15, yang
kemudian digabungkan dalam Batalion Raiders 430 di bawah Komando Daerah Militer
VII Diponegoro.
Pada Februari 1963, setahun setelah Tjakrabirawa berdiri, kompinya diboyong ke
Jakarta untuk bergabung dalam Resimen Tjakrabirawa. Menurut buku Himpunan
Peraturan-peraturan Resimen Tjakrabirawa, Rochadi diangkat sebagai salah satu
komandan kompi Batalion I Kawal Kehormatan pada 3 April tahun itu. Pangkatnya
letnan satu. Salah satu bawahan langsungnya adalah Boengkoes, yang pada
penculikan para jenderal menembak mati Mayjen M.T. Harjono.
Otobiografi Rochadi berhenti pada 1964. Setelah tahun itu, jejaknya di Tjakra tak jelas. "Ia meninggal empat tahun lalu di Swedia. Sayang, pada periode itu, ia disebut-sebut tengah memainkan peran penting karena ikut menentukan seleksi anggota Tjakra, termasuk memasukkan Untung," ujar Asvi.
Penyelidikan ke Swedia untuk mengorek info dari putranya gagal.
Soalnya, menilik bagian pembukaan otobiografi itu, Rochadi menujukkannya bagi
anaknya. Sayangnya, hingga tulisan ini diterbitkan, putranya tak bisa
dihubungi. Namun, dari cerita yang didapatkan Asvi dari komunitas eksil di
Swedia, putra Rochadi juga tak tahu banyak tentang kehidupan ayahnya.
"Jadi peran Kapten Rochadi ini masih samar-samar," ujar Asvi.
"Sungguhpun begitu, kemunculan namanya itu bagus karena berarti ada banyak
hal yang masih bisa diungkap dari peristiwa 30 September." Dari
Maulwi—yang tak menampik kemungkinan Tjakra disusupi tentara kiri atau tentara
yang sudah dipengaruhi Sjam—ada versi lain soal kedatangan Untung ke Tjakra.
Dia mengatakan Tjakra tak ikut menentukan seleksi anggotanya.
"Semua keputusan seleksi anggota Tjakra ada di angkatan masing-masing.
Jadi kami terima bersih," katanya. Maka Maulwi melihat, yang paling
berperan atas masuknya Untung ke Tjakrabirawa adalah para perwira tinggi di
Angkatan Darat. Keputusan mengangkat Untung sebagai komandan batalion, ujarnya,
diambil pada sebuah rapat di Markas Besar Angkatan Darat. "Untung lolos
dari sana karena ia kesayangan (Ahmad) Yani dan Soeharto. Yani, Soeharto, dan
Untung juga berasal dari Kodam Diponegoro."
Tapi Maulwi menduga kuat Soehartolah yang paling berperan merekomendasikan
Untung masuk Tjakrabirawa. Pasalnya, Batalion Raiders berada di bawah kendali
Kostrad. Apalagi Untung dan Soeharto—yang sudah saling kenal jauh sebelum
Operasi Mandala—memang dekat.
"Terbukti, saat Untung menikah di Kebumen, Jawa Tengah, Soeharto dan istrinya
naik jip dari Jakarta ke Kebumen untuk menghadiri resepsinya," ujar dia.
Ada kisah dari Boengkoes, yang mendukung cerita Maulwi tentang peran Soeharto.
Boengkoes mengatakan, ketika mengikuti seleksi Tjakra, dia sudah mengaku
menderita wasir dan disentri sehingga langsung meninggalkan rumah sakit militer
di Semarang. Eh, besoknya dia diberi tahu bahwa dia sehat dan lulus.
Kala itu, kata Boengkoes, ada seratusan personel Banteng Raiders yang juga
lolos seleksi. "Dari Jawa Tengah, jumlah kami yang lolos seleksi cukup
untuk membentuk satu kompi," ujar Boengkoes.
Mana yang benar? Wallahualam. Tapi, menurut Asvi, menyusupkan orang ke
Tjakrabirawa adalah bagian penting dari strategi. "Karena gerakan
dijalankan dengan alasan menyelamatkan presiden, yang paling cocok
menjalankannya adalah pasukan pengawal presiden." I
dul Adha, Mei 1962. Presiden Soekarno pagi itu salat
di lapangan rumput Istana Presiden. Ia di saf terdepan. Tiba-tiba seorang pria
di saf keempat berdiri menghunus pistol. Ia membidik Presiden. Tar! Tembakannya
luput. Peluru mengoyak dada KH Zainul Arifin. Ketua DPR Gotong Royong itu
meninggal setahun kemudian.
Sudah berkali-kali Soekarno dicoba dibunuh. Ia pernah digranat, dibidik pesawat
MIG, tapi insiden Hari Raya Kurban inilah yang tergawat. Detasemen Kawal
Pribadi Presiden kecolongan di halaman Istana, yang dijaganya 24 jam. Karena
itu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Haris Nasution memanggil
Letnan Kolonel Moch. Saboer, ajudan Presiden, untuk membicarakan pembentukan
pasukan pengawal presiden. Sebenarnya itu bukan gagasan baru, tapi selalu
ditolak Soekarno.
Namun, kali ini Nasution berhasil meyakinkan Soekarno bahwa keberadaan pasukan
itu lazim di semua negara. Karena tak ada waktu untuk menyeleksi personel
kesatuan baru itu, Nasution memerintahkan setiap angkatan menyetorkan pasukan
khususnya. Masing-masing satu batalion. Kepolisian menyumbangkan Mobrig
(Brimob), Angkatan Laut memberikan Korps Komando (KKO), dan Angkatan Udara
menyetor Pasukan Gerak Tjepat.
Angkatan Darat seharusnya mengirimkan Resimen Para Komando Angkatan Darat
(RPKAD). L.B. Moerdani—waktu itu masih berpangkat mayor RPKAD—sudah
digadang-gadang sebagai komandan di kesatuan itu. Namun, pasukan elite ini
menolak tugas tersebut dengan alasan ingin berkonsentrasi sebagai pasukan
tempur. Sebagai gantinya, mereka memberikan pasukan Kostrad (waktu itu
Tjadangan Umum Angkatan Darat, Tjaduad). Dua kompi di antaranya dari Batalion
454/Kodam VII Diponegoro, yang dikenal dengan sebutan Batalion Raiders atau
Banteng Raiders.
Batalion ini sebenarnya punya catatan buruk di masa lalu. Sebagian anggotanya
berasal dari Batalion Sudigdo, yang terlibat pemberontakan PKI di Madiun pada
1948. Ketika pemberontakan itu dipadamkan, batalion ini sempat dibersihkan dari
unsur PKI. Namun, sebelum rampung, Belanda melancarkan agresi militer kedua.
Tapi soal itu sepertinya tertutupi oleh pamor tim tempur ini yang moncer dalam
operasi PRRI/Permesta dan Operasi Trikora di Irian Barat. Apalagi Jenderal
Ahmad Yani, yang dekat dengan Soekarno, dulu dari batalion ini. Pada hari ulang
tahunnya, 6 Juni 1962, Soekarno meresmikan resimen itu. Ia memberi nama
Tjakrabirawa, senjata pamungkas Batara Kresna dalam lakon wayang kegemarannya.
Ia pulalah yang memilihkan seragamnya: baju warna cokelat tua dengan baret
merah gelap.
Setahun kemudian, pasukan ini sudah dalam kekuatan penuh. Senjata mereka serba
canggih. Maklum, pasukan ini mendapat anggaran langsung dari pemerintah pusat,
bukan dari kantong ABRI. Lalu, 30 September 1965, Letnan Kolonel Untung
Sjamsuri, Komandan Batalion I Kawal Kehormatan, melakukan makar. Kisah
Tjakrabirawa setelah itu cuma berisi tragedi.
Sebenarnya cuma dua kompi Tjakra yang jahat. Ini
kesaksian mantan Provoost Tjakra, Letkol CPM (Purnawirawan) Suhardi. Pagi 1
Oktober 1965, ujar Suhardi kepada Tempo, ia—saat itu kapten—menemukan, di
markasnya di Wisma Kala Hitam hanya ada kompi Jawa Barat dan Jawa Timur.
"Harusnya ada empat. Kompi Raiders dari Jawa Tengah dua-duanya tidak
ada."
Belakangan, sebagian anggota kompi itu tertangkap di Cirebon. Rupanya, setelah
aksi makarnya gagal, mereka melakukan long march ke pangkalannya di Srondol,
Semarang, di bawah pimpinan Dul Arief. Sial, di Kota Udang, pasukan ini
kehabisan ransum. Berdasarkan pemeriksaan di Cirebon oleh Mayor Soetardjo,
diketahui bahwa yang terlibat gerakan Untung hanya 86 orang.
Tapi ada versi lain. Menurut Antonie Dake dalam bukunya, Soekarno File, ada
banyak Tjakra terlibat. Mereka bahkan sudah menyiapkan kedatangan Soekarno ke
Halim sehari sebelum 30 September. Ini dibantah Kolonel Maulwi Saelan. Menurut
Maulwi, langkah mengungsikan Soekarno ke Halim diambil semata-mata agar dia
dekat dengan pesawat kepresidenan Jet Star, yang mangkal di sana.
Tudingan terhadap Tjakra juga dilontarkan pengamat politik militer Australia,
Ulf Sundhaussen. Dia mengatakan, pada 3 Oktober Saelan memimpin Tjakrabirawa
pergi ke Lubang Buaya untuk menghilangkan jejak penculikan atas perintah
Soekarno.
"Itu kebohongan yang menjijikkan," ujar Maulwi. "Seperti laporan
Soetardjo, yang terlibat hanya 86 orang." Ia memang ke Lubang Buaya
bersama pasukannya. Tapi ini berkat informasi dari agen polisi Sukitman, yang
terculik bersama para jenderal dan kemudian ditemukan oleh pasukannya. Ketika
memeriksa lokasi yang disebut Sukitman—yang sudah mereka serahkan ke
Kostrad—pasukannya menemukan sumur tempat para jenderal itu dibuang.
Gara-gara aksi Untung, resimen ini bahkan coreng-moreng oleh perbuatan yang
tidak mereka lakukan. Pada 1996, misalnya, Tjakra dituduh menembak mahasiswa
Universitas Indonesia, Arief Rahman Hakim. Maulwi, dalam bukunya, Kesaksian
Wakil Komandan Tjakrabirawa, menulis, penembaknya sebetulnya anggota Pom Dam V
yang jadi patroli garnisun.
Riwayat resimen ini tamat pada 22 Maret 1966. "Tugas kalian sudah
selesai," kata Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maraden Panggabean
kepada para petinggi resimen ini di Markas Angkatan Darat. Ia meminta anggota
Tjakra, yang disebutnya de beste zoneri (putra terbaik angkatan), kembali ke
kesatuannya. Enam hari setelahnya, Saboer menyerahkan pengawalan presiden
kepada Polisi Militer Angkatan Darat. Namun, kisah Tjakra masih berlanjut.
Untung divonis mati. Dul Arief hilang tak berbekas. Anggota kompinya
dijebloskan ke rumah tahanan militer.
Memang banyak anggota Tjakra yang tak dipenjara dan dipulangkan ke kesatuan
lamanya. Namun, menurut Maulwi, di kesatuannya, mereka rata-rata disisihkan.
"Kami yang diperintahkan setia kepada Presiden dianggap kekuatan Soekarno
yang harus disingkirkan," ujar Maulwi. "Saya kasihan pada anggota
Tjakra. Mereka prajurit cemerlang tapi berada di posisi salah."
"Tjakra seperti bertukar nasib dengan Tjaduad," Maulwi menambahkan.
"Tjaduad hanya tempat untuk tentara yang sudah masuk kotak... seperti
Soeharto, yang akan dipensiunkan."