Memobee
Everybody's a Journalist  Add Journal  
Kalimat Munarman (Jubir FPI) cukup menyakitkan perdamaian di dialog TVOne
Kalimat Munarman (Jubir FPI) Cukup Menyakitkan Perdamaian Di Dialog TVOne   
 
Posted by Hidsan Koesmara Putra

2 years ago

Malam ini saya melihat acara talk show di tv one, mengenai “Ormas Anarkis”. Ada 4 narasumber yang hadir, berlima dengan pembawa acara wanita. Ke empat narasumber tersebut adalah Kadiv Humas Mabes Polri Bpk. Saud Nasution, perwakilan GPA Ansor Bpk. Juri, Sosiolog bpk. Prasodjo dan terakhir Jubir FPI Munarman, dan hampir lupa satu lagi, Ketua Dewan Adat Dayak Bpk. Sabran Ahmad.

Statement Pak Nasution mengenai ormas sebaiknya menggunakan prosedur yang ada dan menunggu tindak lanjut untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan ormas di lapangan, dan FPI sudah melakukan banyak tindakan anarkis.

Statement Pak Juri, sebagai ormas yang dulu pernah juga berimbas perspektif negatif sekarang baiknya lebih melakukan hal-hal yang benar-benar membangun bangsa ini ke arah yang lebih positif dan kondusif, tidak menggunakan anarkis. Lagi tambahnya, apa yang dilakukan FPI seolah-olah sudah sangat superior sekali dengan tidak mengindahkahkan pemimpin dan alat negeri ini.

Statemen Jubir FPI, FPI tidak ada melakukan tindak kekerasan/anarkis. Kami punya data yang lengkap untuk melakukan sesuatu.

Statement Ketua Dewan Adat Dayak, Bpk. Sabran Ahmad mengatakan dan mengkonfirmasi bahwa yang melarang FPI di tanah borneo itu memang seluruh lapisan masyarakat Kalimantan, bukan hanya suku dayak. Dia mengakui bahwa FPI dinilai oleh masyarakat Kalimantan telah banyak melakukan kekerasan dan dikhawatirkan akan melakukan konflik baru di kalimantan yang selama ini sudah kembali damai dan aman. Dia juga mengatakan FPI belum dibutuhkan di kalimantan karena mereka sudah memiliki semua yang dibutuhkan seperti NU, Muhammadiyah dan lainnya.

Statement Sosiolog Bpk. Imam mengatakan bahwa seharusnya dialog seperti ini bukan on air, lebih baik di bicarakan di atas meja dengan hati ke hati. Takutnya karena persepsi yang banyak dan belum bisa menyatu akan mengakibatkan kekeliruan bagi pihak FPI dan rakyat Kalimantan.

Terjadi sedikit perdebatan memang via on air antara Ketua Dewan Adat Dayak Bpk Sabran Ahmad dengan Jubir FPI Munarman. Kira-kira seperti ini, “…FPI dinilai banyak melakukan tindak kekerasan dan dikhawatirkan kehadirannya akan berdampak buruk bagi kerukunan umat beragama yang sudah tercipta, disini rumah ibadah di bangun berdampingan dan tidak ada masalah. Jadi seluruh masyarakat Kalimantan, bukan hanya suku Dayak, memutuskan untuk menolak keberadaan FPI di Kalimantan Tengah.”

Dengan spontan Jubir FPI Munarman memotong pembicaraan, “FPI tidak ada melakukan kekerasan. Memang yang melakukan kekerasan pada tahun 2000an di Kalimantan Tengah itu siapa? Yang memenggal kepala orang Madura itu siapa? Kan yang melakukan itu suku Dayak!

Dengan melanjutkan statementnya Ketua Dewan Adat Dayak, Bpk Sabran Ahmad mengatakan, “saudara tidak tau permasalahannya di sini, saudara tidak tau apa-apa mengenai itu,…” lalu dipotong oleh juru bicara tv one.

Oleh sebab itu sosiolog tersebut mengeluarkan statement seperti yang tertulis di atas.


-----------------------------------------------------------------------
Entah apa yang ada di pikiran pak Munarman, SH ketika berkalimat seperti itu dalam sebuah dialog on air, mencoba mengorek luka lama yang telah dikubur dalam-dalam. Dari semula mengatakan bahwa penolakan dilakukan oleh suku Dayak, kemudian dikatakannya sebagai preman fasis. Sungguh lidah yang tak bertulang.
 
 
 
 
 
Please login or sign up to comment
Other Articles by Hidsan Koesmara Putra

Related Stories

Trending Articles


About Us | Term of Service | Contact Us