Memobee
News
Keyword:
Hebat! Petani Buat Pupuk Dari Bangkai Tikus
Hebat! Petani Buat Pupuk Dari Bangkai Tikus
12 January 2012, 2 years ago
Bagi kebanyakan orang, tikus merupakan binatang yang menjadi musuh bebuyutan, entah itu bagi petani ataupun rumah tangga. Tidak jarang banyak warga yang memburu binatang hama ini untuk kemudian dibuang bangkainya. Jika sudah begitu, hampir semua orang pastinya akan menghindar akibat bau busuk yang sering muncul.

Tapi bangkai tikus ternyata tidaklah sebegitu menjijikkan di tangan Anas. Petani berusia 40 tahun asal Kecamatan Cempa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.  

Seperti yang dilansir dari sebuah media lokal, Kamis (12/01/2012), Anas menemukan bahwa bangkai tikus ternyata bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kompos cair.

Ide membuat pupuk kompos cair itupun didapatnya secara tidak sengaja. saat itu banyak bangkai tikus yang dibuang ke areal persawahannya. Alhasil, tanah persawahannya pun semakin subur. Maka sejak saat itulah Anas mulai mencari cara untuk mengolah bangkai tikus akan menjadi pupuk kompos.

Di awal, Anas menggunakan drum sebagai alat menampung tikus. Pada tahan ini, Anas melakukan fermentasi untuk memisahkan antara tulangm, daging serta bau bangkai yang menyengat. Setelah itu, sari pati air dari daging tersebut kemudian disaring hingga akhirnya dijadikan pupuk kompos untuk sawahnya.

Kini usaha yang dirintis sejak tahun 2005 semakin berkembang. Tercatat sejak tahun lalu, Anas tidak lagi menggunakan drum, melainkan bak yang dibuat dari bata, semen dan pasir. Dengan cara baru ini, bau bangkai yang menyengat bisa dikurangi dan air sari yang dihasilkan dapat lebih mudah didapatkan karena Anas memasang keran di bagian bawah bak.

Ada dua jenis kualitas yang terbagi untuk pupuk kompos cair ini, yang pertama air sari bangkai tikus tidak perlu dicampur air sehingga efek menyuburkannya lebih baik. Sementara yang kedua adalah kebalikannya. Untuk membuat 10 liter pupuk cair jenis kelas 1, Anas setidaknya membutuhkan sekitar 100 tikus.

Dengan pupuk ini, petani yang ada disekitar wilayah Anas mengaku ikut terbantu karena biaya penggunaan pupuk urea bisa dipangkas hingga 35 persen. Tidak hanya itu, hasil panen yang dihasilkan pun meningkat.

Berkat penemuan ini, Anas pun menjadi buah bibir. Banyak peneliti tikus baik dari lokal maupun internasional yang datang untuk melihat metode fermentasi bangkai tikus yang dibuat oleh Anas. Makanya tidak heran jika kemudian dia dijuluki sebagai profesor tikus oleh seorang peneliti dari Balau Penelitian dan pengembangan Tanaman Pangan (BPPTP) kabupaten Maros.

(as/opnsrc/rep)
 
 
 
 
Please login or sign up to comment
Other Topics


About Us | Term of Service | Contact Us